PERINTAH UNTUK MENGIKUTI AL QUR'AN (Tafsir Ayat 7:3)


PERINTAH UNTUK MENGIKUTI AL QUR'AN


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman;

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian (Al Qur'an) dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain­Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya). (Q.S. Al A'raf [7] : 3)

Ath Thabari (838 M / 224 H - 923 M / 310 H) berkata : Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad SAW, 'Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik dari kaummu yang menyembah berhala dan patung, Ikutilah, hai manusia apa yang datang kepadamu dari sisi Tuhan kalian dengan bukti-bukti kebenaran dan petunjuk, serta lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Tuhan kalian kepada kalian, janganlah kamu mengikuti sedikit pun selain yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian kepada kalian. Janganlah kalian mengikuti perintah pemimpin-pemimpin kalian yang memerintahkan kalian untuk menyekutukan Allah dan menyembah berhala, sebab mereka hanya akan menyesatkan kalian dan tidak akan membawa kalian kepada petunjuk. Amat sedikit kalian mengambil nasihat dan mengambil i'tibar, hingga kalian pun menolak kebenaran'.

Al Qurthubi (1214 M / 610 H - 1273 M / 671 H) berkata : Secara tekstual, jelas terlihat bahwa ini adalah persoalan yang menyangkut seluruh umat manusia. Artinya adalah ikutilah ajaran agama lslam dan Al Qur'an, halalkanlah apa yang Allah halalkan dan haramkanlah yang Allah haramkan, laksanakanlah perintah-Nya, dan hindarilah larangan-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan perintah untuk meninggalkan semua pendapat jika ada nash. Janganlah kamu menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain dan janganlah menjadikan orang-orang yang berpaling dari ajaran agama Allah sebagai pemimpin. Siapa saja yang ridha terhadap suatu golongan, maka orang yang ahli dalam golongan tersebut dijadikan sebagai pemimpinnya.

Ibnu Katsir (1301 M / 701 H - 1372 M / 774 H) berkata : Yakni ikutilah jejak-jejak Nabi yang ummi, yang datang kepada kalian dengan membawa Kitab yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan segala sesuatu dan Yang Maha Memilikinya. Janganlah kalian menyimpang dari apa yang telah disampaikan oleh Rasul kepada kalian dengan menempuh jalan yang lain, yang akhirnya mengakibatkan kalian menyimpang pula dari hukum Allah kepada hukum selain-Nya.

Asy Syaukani  (1759 M / 1173 H –1834 M 1250 H) berkata : Firman-Nya, (Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu), yakni Al Kitab dan As-Sunnah yang menyerupainya. Demikian maknanya sebagaimana berdasarkan firman-Nya dalam ayat lain: (Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah). (Qs. Al Hasyr [59] : 7) dan ayat-ayat serupa lainnya. Ini adalah perintah bagi Nabi SAW dan umatnya. Ada juga yang mengatakan, bahwa ini adalah perintah bagi umatnya setelah merupakan perintah bagi Nabi SAW untuk menyampaikan. Perintah ini diturunkan kepada mereka dengan cara diturunkannya kepada Nabi SAW. (Janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya). Ini larangan bagi umat untuk mengikuti para pemimpin selain Allah, yaitu yang mereka sembah dan mereka jadikan sekutu-sekutu Allah. Maka berdasarkan pemaknaan ini, dhamir pada kalimat: min duunihi (selain-Nya) kembali kepada Rabb (Tuhan). Bisa juga kembali kepada kata: Maa pada kalimat: Maa unzila ilaikum (apa yang diturunkan kepadamu), maksudnya adalah, janganlah kamu mengikuti selain Kitabullah, sebagai pemimpin yang kamu contoh dalam agamamu sebagaimana yang dilakukan oleh kaum jahiliyah yang mematuhi para pemimpin dalam menghalalkan apa yang mereka halalkan untuk mereka dan mengharamkan apa yang mereka haramkan untuk mereka.

Tengku M. Hasbi Ash Shiddiqi (1904 M / 1321 H - 1975 M / 1395 H) berkata : Ittabi'uu maa unzila ilaikum mir robbikum : Ikutilah apa (al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Hai Rasul, katakan kepada mereka: 'Ikutilah apa (al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu yang menciptakan kamu dan mengendalikan segala urusanmu dengan bantuan dan kepemimpinanNya yang sempurna. Sebab, Allah sendiri yang mensyariatkan agama, mewajibkan suatu ibadat, dan menetapkan hukum halal dan haram'. Wa laa tattabi'uu min duunihii auliyaa' : Dan janganlah kamu mengikuti para pengatur urusan hidup selain Allah. Dalam urusan agama, janganlah kamu mengikuti penolong atau siapa pun selain Allah, baik penolong itu jin maupun manusia. Merekalah yang menyisipkan kesesatan dan bid'ah dalam agamamu. Para penolong itu sesungguhnya bukan membantu menegakkan ajaran agama, melainkan membawa kamu menjadi penyembah berhala. Qaliilam maa tadzakkaruun : Hanya sedikit tugas kewajiban yang kamu ingat. Sedikit sekali tugas yang diwajibkan Allah yang kamu ingat. Ayat ini melarang kita menaati makhluk dalam urusan agama, meskipun makhluk itu sering digolongkan sebagai ulama dan tokoh agama, seperti halnya yang dilakukan oleh ahlul kitab. Mengikuti Rasul dengan melaksanakan penjelasan-penjelasan yang diberikannya termasuk ke dalam pengertian umum perintah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah. Dan menjelaskan apa yang diturunkan oleh Allah adalah tugas Rasul.

Sayyid Quthb (1906 M / 1324 H - 1966 M / 1386 H) berkata : Ini adalah persoalan agama yang asasi. Yaitu, mengikuti apa yang diturunkan Allah, dan sikap demikian berarti Islam kepada Allah, mengakui Rububiyyah untukNya saja. Menunggalkan kedaulatan hanya  untukNya, yang berhak memerintah dan dipatuhi perintahNya. Ditaati perintahNya dan dijauhi laranganNya. Sedang selain Dia tidak berhak terhadap semua itu. Atau, mengikuti pimpinan selain Allah yang tindakan ini merupakan perbuatan syirik menolak mengakui rububiyyah hanya untuk Allah sendiri. Bagaimana tidak begitu, sedangkan dia tidak mengakui kedaulatan hanya milik Allah ?

Buya HAMKA (1908 M / 1326 H - 1981 M / 1401 H) berkata : "Turutilah olehmu apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu." (pangkal ayat 3). Kepada manusia diterangkanlah dengan ayat ini, bahwasanya kitab yang diturunkan kepada Rasul itu, tidaklah lain gunanya, hanyalah untuk menuntun dan memimpin manusia. Itulah jalan selamat satu-satunya bagi mereka, kalau mereka turuti dia dengan setia. Dan itulah dia pegangan hidup yang sejati. Yang mengirimkan kitab itu kepada kamu ialah Tuhan Allah musendiri, dengan perantaraan RasulNya Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu: "Dan janganlah kamu turuti yang selain dari Dia jadi penolong-penolong." Banyak jalan bersimpang-siur, namun jalan yang benar hanyalah satu, yaitu Jalan Allah. Yang lain tidaklah bisa menjadi penolong, pembantu dan pembawa selamat, ataupun pelindung. Tidak ada Auliya' yang berarti wali-wali yang dapat memberikan keselamatan kepada manusia atau mendatangkan manfaat ataupun mudharat. Tidak ada yang lain, kecuali hanya Allah, Allah membuktikan bagaimana Dia menjadi Wali kamu yang sejati, yaitu diturunkanNya al-Quran untuk membimbingmu, sedang yang lain hanya membawa sesat kamu saja. Sebab itu jangan kamu sembah berhala dan jangan kamu turuti kehendak syaitan. Semuanya itu hanya membawamu sesat. Tetapi sayang. "Sedikitlah kamu yang ingat." (ujung ayat 3). Terlebih banyak masih saja tidak ingat. Dia mengakui memang hanya Allah saja yang Tuhan, tetapi masih saja berwali atau meminta pertolongan kepada penolong yang lain. Itulah yang lebih banyak, karena tidak sadar.

Wahbah Az Zuhayli (1932 M / 1350 H - 2015 M / 1436 H) berkata : "lkutilah wahai manusia apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian, Tuhan segala sesuatu, pemiliknya, pengatur dan penjaganya. Dia sendiri pemilik kebenaran dalam penetapan hukum dan ibadah, penghalalan dan pengharaman sebab Dia Maha Mengetahui apa yang maslahat Yang Maha Bijaksana terhadap apa yang membahayakan diri kalian. Dia tidak akan menetapkan hukum kecuali yang baik dan benar. Janganlah kalian mengikuti pemimpin selain Allah. Seperti halnya diri kalian atau setan-setan yang membisiki kalian hal-hal yang di dalamnya ada bahaya dan risiko, kesesatan dan kerusakan, keburukan dan kejelekan, dan memberikan khayalan bahwa berhala-berhala adalah sekutu-sekutu yang mempunyai pengaruh di sisi Allah padahal mereka adalah batu-batu yang tidak membahayakan tidak pula memberi manfaat. Artinya janganlah kalian keluar dari apa yang dibawa oleh rasul kepada selainnya sehingga kalian telah berpaling dari kebenaran menuju kesesatan, dari hukum Allah menuju hukum setan dan hawa nafsu. Namun, kalian sedikit sekali mengambil pelajaran dan melupakan kewajiban atas kalian kepada Tuhan kalian". Ini seperti firman Allah SWT, "Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya." (Qs. Yuusuf [12] : 103)

M. Quraish Shihab (1944 M / 1363 H) berkata : melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada seluruh manusia, lebih-lebih umat Islam agar mengikuti tuntunan al-Qur’an dan menjauh dari rayuan setan, serta siapapun yang mengajak kepada kedurhakaan. Pesannya: Ikutilah wahai seluruh manusia, dengan tekun dan bersungguh-sungguh apa, yakni tuntunan-tuntunan yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kamu dan janganlah kamu mengikuti dengan penuh kesungguhan bimbingan dan tuntunan pemimpin-pemimpin selain-Nya, yakni siapapun yang tuntunannya bertentangan dengan tuntunan Allah, karena tidak diperkenankan mentaati makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah. Karena banyak, bahkan lebih banyak manusia yang tidak taat kepada Allah, maka ayat ini diakhiri dengan Amat sedikit kamu mengambil pelajaran dari al-Qur’an, demikian al-Biqa‘i. Atau dapat juga dikatakan, bahwa karena betapapun banyaknya pelajaran yang dipetik oleh manusia dari al-Qur’an, ia pada hakikatnya sedikit bahkan amat sedikit, dibanding dengan kandungannya. Ayat ini merangkaikan kata ma dengan qalila, sehingga ia bermakna amat sedikit. Kata amat sedikit dapat juga dipahami dalam arti, amat sedikit waktu yang kamu gunakan untuk mengambil pelajaran dari al-Qur’an. Kata ittabi'u berasal dari kata tabi'a yang mengandung makna berjalan dibelakang seorang pejalan. Ia diartikan juga dengan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pihak lain. Penambahan huruf ta’ pada kata tersebut mengandung arti “kesungguhan”. Dengan demikian, perintah mengikuti tuntunan kitab suci, mengandung makna penekanan dan perlunya kesungguhan menghadapi godaan dan rayuan nafsu yang selalu menghambat manusia ke arah tuntunan-Nya. Sedang larangan mengikuti bimbingan selain bimbingan Allah mengandung isyarat, bahwa siapa yang mengikuti bimbingan mereka bukan akibat kesungguhan dan tekad untuk mengikutinya, tetapi karena lengah atau lupa, maka diharapkan ia dapat memperoleh pengampunan Ilahi. Kata auliya’ adalah bentuk jamak dari kata waliyy yang maknanya adalah yang selalu bersama atau yang membantu dan menolong, juga dalam arti teman akrab atau pemimpin. Yang dimaksud disini adalah tuhan-tuhan atau siapapun yang ditaati ketentuan dan bimbingannya.

Dalam tafsir ringkas yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2016 dijelaskan : Ikutilah, wahai kaum muslim, apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dalam hal apa saja. Yakinilah bahwa semuanya akan membawa kebaikan, karena Tuhanmu adalah Zat Yang Maha Penyayang kepada makhluk-Nya. Janganlah kamu ikuti siapa pun selain Dia sebagai pemimpin lalu kamu pasrahkan semua urusanmu kepada mereka dan kamu taati saja seruan mereka, padahal mereka akan mengajakmu kepada jalan kesesatan. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran sehingga kamu tidak kembali ke jalan yang benar. Ayat ini melarang seseorang mengikuti ajakan orang lain dalam urusan agama yang tidak datang dari Allah.

Referensi:
1. Jami' Al Bayan 'An Ta'wili Ayi Al Qur'an (Ath Thabari)
2. Al Jami' Li Ahkami Al Qur'an (Al Qurthubi)
3. Tafsir Al Qur'anil 'Azhim (Ibnu Katsir)
4. Fathul Qadir (Asy Syaukani)
5. Tafsir An Nur (T.M. Hasbi Ash Shiddiqi)
6. Fi Zhilal Al Qur'an (Sayyid Quthb)
7. Tafsir Al Azhar (Buya HAMKA)
8. At Tafsir Al Munir (Wahbah Zuhayli)
9. Tafsir Al Mishbah (M. Quraish Shihab)
10. Tafsir Ringkas (Lajnah Pentashihan Mushaf)


M. Aang Sopyan Ansory
RTQ Al Ikhlash

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (1)

Forum Huffazhil Quran Mengutuk Keras Terdakwa HW

SHAHIH BUKHARI - KITAB 1 PERMULAAN TURUNNYA WAHYU