Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (10)

Sufyan bin Uyainah

لَا تَبْلُغُوا ذِرْوَةَ هَذَا الْأَمْرِ إِلَّا حَتَّى لَا يَكُونَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ , وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ , افْقَهُوا مَا يُقَالُ لَكم

144. Kalian tidak akan sampai pada puncak agama ini hingga tidak ada satu pun yang kalian lebih cintai selain Allah. Barangsiapa cinta kepada Al Qur'an, sungguh dia cinta kepada Allah. Pahamilah apa yang disampaikan kepada kalian.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ يُسْأَلُ عَمَّا يُسْأَلُ عَنْهُ الْأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ إِلَّا تَبْلِيغَ الرِّسَالَةِ
145. Barangsiapa yang membaca Al Qur'an, berarti dia telah diberikan kewajiban sebagaimana kewajiban yang diembankan kepada para Nabi, yakni menyampaikan risalah.

سُئِلَ سُفْيَانَ، عَنْ قَوْلِهِ {لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ} [الأنبياء: 10] قَالَ: أَنْزَلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ , فَهُمُ الَّذِينَ كَانُوا يَشْرُفُونَ بِهَا , وَيَفْضُلُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهَا , مِنْ حُسْنِ الْجِوَارِ , وَوَفَاءٍ بِالْعَهْدِ , وَصِدْقِ الْحَدِيثِ , وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ , فَقَالَ: إِنَّمَا جَاءَكُمْ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَارِمِ أَخْلَاقِكُمُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تَشْرُفُونَ وَتُعَظَّمُونَ , انْظُرُوا هَلْ جَاءَ بِشَيْءٍ مِمَّا كُنْتُمْ تَعِيبُونَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْقَبِيحَةِ الَّتِي كُنْتُمْ تَعِيبُونَهَا؟ فَلَمْ يُقَبِحِ الْقَبِيحَ , وَلَمْ يُحَسِّنِ الْحَسَنَ؟

146. Sufyan ditanya tentang firman Allah, Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya (Qs. Al Anbiya' [21]: 10) dia menjawab, Allah menurunkan AI Qur'an kepada Nabi Muhammad, berkenaan dengan akhlak yang mulia. Merekalah (para sahabat) yang mengagungkan akhlak yang mulia, serta menjadikannya sebagai alat ukur kemuliaan di antara mereka. Di antaranya adalah, berlaku baik kepada tetangga, menepati janji, benar dalam berkata, dan menunaikan amanah. Sesungguhnya Nabi Muhammad datang membawa akhlak yang mulia yang kalian agungkan. Perhatikanlah, apakah ada yang dibawanya merupakan akhlak yang kalian anggap jelek. Apakah ia, tidak mengatakan jelek yang buruk, dan tidak mengatakan baik yang bagus ?.

مَنْ أُعْطِيَ الْقُرْآنَ فَمَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى شَيْءٍ مِمَّا صَغَرَ الْقُرْآنَ فَقَدْ خَالَفَ الْقُرْآنَ , أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَهُ تَعَالَى {وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131] يَعْنِي الْقُرْآنَ

147. Barangsiapa diberikan anugerah berupa Al Qur'an, namun dia memalingkan perhatiannya kepada sesuatu yang mengecilkan Al Qur'an, sungguh dia telah menyelisihi Al Qur'an. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta'ala, 'Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupn dunia untuk kami cobai mereka. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Qs. Thaahaa [20]: 131) Maksudnya adalah Al Qur'an.

Syaqiq Al Balkhi

عَمِلْتُ فِي الْقُرْآنِ عِشْرِينَ سَنَةً حَتَّى مَيَّزْتُ الدُّنْيَا عَنِ الْآخِرَةِ، فَأَصَبْتُهُ فِي حَرْفَيْنِ وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى {وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [القصص: 60]
148. Aku mengamalkan Al Quran selama dua puluh tahun, hingga aku dapat membedakan antara dunia dan akhirat, aku mendapatkannya dalam dua huruf, yaitu firman Allah Ta'ala, 'Dan apa saja yang diberikan kepadamu (kekayaan, kejayaan, keturunan), maka itu adalah hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. '(Qs.Al Qashash [28]: 60).

أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ مِنْ طَرِيقِ الِاسْتِقَامَةِ: لَا يَتْرُكُ أَمْرَ اللهِ لِشِدَّةٍ تَنْزِلُ بِهِ , وَلَا يَتْرُكُهُ لِشَيْءٍ يَقَعُ فِي يَدِهِ مِنَ الدُّنْيَا فَلَا يَعْمَلُ بِهَوَى أَحَدٍ , وَلَا يَعْمَلُ بِهَوَى نَفْسِهِ لِأَنَّ الْهَوَى مَذْمُومٌ , لَيَعْمَلَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

149. Ada empat yang termasuk jalan menuju istiqamah, yaitu 1. tidak meninggalkan perintah Allah karena kesulitan yang menghalanginya, 2. tidak meninggalkannya karena ada urusan dunia, maka tidak berbuat atas dasar hawa nafsu seseorang, 3. dan tidak akan berbuat berdasarkan hawa nafsu sendiri, karena hawa nafsu itu tercela. 4. Hendaklah dia berbuat berdasarkan Al Kitab dan As-Sunnah."

Fudhail bin Iyadh

يَا ابْنَ آدَمَ اجْعَلِ الدُّنْيَا دَارًا تُبَلِّغُكَ لِأَثْقَالِكَ وَاجْعَلْ نُزُولَكَ فِيهَا اسْتِرَاحَةً لَا تَحْبِسُكُ كَالْهَارِبُ مِنْ عَدُوِّهِ وَالْمُتَسَرِّعُ إِلَى أَهْلِهِ فِي طَرِيقٍ مَخُوفٍ لَا يَجِدُ مُسَالِمًا يَقْدَمُ فِيهِ مِنَ الراحةِ , مُتَبَدِّلًا فِي سَفَرِهِ لِيَسْتَبْقِيَ صَالِحَ مَا عِنْدَهُ لِإِقَامَتِهِ فَإِنْ عَجَزْتَ أَنْ تَكُونَ كَذَلِكَ فِي الْعَمَلِ فَلْيَكُنْ ذَلِكَ هُوَ الْأَمَلُ , وَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ لِصًّا مِنْ لُصُوصِ تِلْكَ الطَّرِيقِ مِمَّنْ {يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ} [الأنعام: 26] فَإِنَّ الْعَيْنَ مَا لَمْ يَكُنْ بَصَرُهَا مِنَ الْقَلْبِ فَكَأَنَّمَا أَبْصَرَتْ سَهْوًا ولَمْ تُبْصِرْهُ وَإِنَّ آيَةَ الْعَمَى إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ بِذَلِكَ نَفْسَكَ أَوْ غَيْرَكَ فَإِنَّهَا لَا تَقِفُ عَنِ الْهَلَكَةِ وَلَا تُمْضِيهِ فِي الرَّغْبَةِ فَذَلِكَ أَعْمَى الْقَلْبِ , وَإِنْ كَانَ بَصِيرَ النَّظَرِ , فَإِذَا الْعَاقِلُ أَخْرَجَ عَقْلَهُ فَهُوَ يُدَبِّرُ لَهُ أَمْرَهُ وَمَنْ تَدَبُّرَ الْكِتَابَ تُمْضِيهِ الرَّغْبَةُ وَتَرُدُّهُ الرَّهْبَةُ فَذَلِكَ الْبَصِيرُ وَإِنْ كَانَ أَعْمَى الْبَصَرِ

150. Wahai anak Adam, jadikanlah dunia sebagai tempat yang bisa menyempurnakan muatanmu dan jadikanlah persinggahanmu di dalamnya hanyalah untuk istirahat, yang mana ia tidak akan menahanmu, sebagaimana orang yang lari dari musuhnya, dan orang yang bergegas menyusul keluarganya di pertengahan jalan yang menakutkan, dimana dia tidak menemukan penengah yang bisa memberikannya ketenangan, juga (tidak menemukan) penukar barang dalam perjalanannya, agar apa yang dia miliki tetap utuh, karena dia sendiri masih bermukim, namun apabila engkau tidak bisa menjadikan hal itu dalam amalan, maka jadikanlah ia dalam cita-cita. Janganlah seperti seorang pencuri di jalanan tersebut yaitu, bagian dari orang yang melarang (orang lain) mendengarkan (Al Qur'an) dan mereka sendiri menjauhkan diri dari padanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari (Qs. Al An'aam [6]:26). Sesungguhnya mata itu selama penglihatannya tidak muncul dari hati, maka seakan-akan ia melihat dalam keadaan lalai dan sebenarnya ia tidak bisa melihat. Sesungguhnya tanda-tanda buta adalah, apabila engkau ingin mengetahui hal itu pada dirimu sendiri atau selainmu, maka ia tidak akan berada dalam kebinasaan dan ia juga tidak merasakan kecintaan. Inilah yang disebut buta hati, walaupun matanya bisa melihat. Orang yang berakal adalah orang yang mengerahkan akalnya untuk merenungkan sebuah perkara yang bermanfaat baginya dan memikirkan Al Kitab, yang bisa merasakan kecintaan dan menghilangkan kebencian, maka itulah yang dinamakan mata hati, walaupun matanya buta.

حَامِلُ الْقُرْآنِ حَامِلُ رَايَةِ الْإِسْلَامِ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَلْغُوَ مَعَ مَنْ يَلْغُو وَلَا أَنْ يَلْهُوَ مَعَ مَنْ يَلْهُو وَلَا يَسْهُوُ مَعَ مَنْ يَسْهُو وَيَنْبَغِي لِحَامِلِ الْقُرْآنِ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ إِلَى الْخَلْقِ حَاجَةٌ لَا إِلَى الْخُلَفَاءِ , فَمَنْ دُونَهُمْ وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَوَايِجُ الْخَلْقِ إِلَيْهِ

151. Pembawa Al Qur'an adalah pembawa bendera Islam, tidak pantas baginya melakukan kesalahan bersama orang yang melakukan kesalahan, bermain-main bersama orang yang bermain-main, dan lalai bersama orang yang lalai. Selayaknya pembawa Al Qur'an tidak mempunyai kebutuhan kepada makhluk, tidak pulakepada para pemimpin dan di bawah mereka. Selayaknya makhluk-lah yang membutuhkannya.

Dikutip dari kitab Hilyatul Auliya Wa Thabaqatul Ashfiya

M. Aang Sopyan Ansory

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (1)

Forum Huffazhil Quran Mengutuk Keras Terdakwa HW

SHAHIH BUKHARI - KITAB 1 PERMULAAN TURUNNYA WAHYU