Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (14)
Mujahid Ash Shufi
اتَّخِذِ اللَّهَ صَاحِبًا وَدَعِ النَّاسَ جَانِبًا وَعانِقِ الْفَقْرَ، فَمَنْ كَانَ الْقُرْآنُ مُحَدِّثَهُ وَالدُّعَاءُ رَسُولَهُ وَالْمَلَائِكَةُ جُلَسَاءَهُ وَاللَّهُ أَنِيسَهُ فَلَا تَخَفْ عَلَيْهِ الضَّيْعَةَ
186. Jadikanlah Allah sebagai teman, kesampingkanlah manusia, dan rangkullah kefakiran. Barangsiapa yang menjadikan Al Qur'an sebagai tempat bicaranya, doa sebagai utusannya, malaikat sebagai teman duduknya, dan Allah sebagai teman sejawatnya, maka janganlah engkau mengkhawatirkan pekerjaannya.
Zuhair bin Nu'aim
قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَاصِمٍ : كَانَتْ يَدِي فِي يَدِ زُهَيْرٍ أَمْشِي مَعَهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مَكْفُوفٍ يَقْرَأُ فَلَمَّا سَمِعَ قِرَاءَتَهُ وَقَفَ وَنَظَرَ وَقَالَ : لَا تَغُرَّنَّكَ قِرَاءَتَهُ وَاللَّهِ وَاللَّهِ إِنَّهُ شَرٌّ مِنَ الْغِنَاءِ وَضَرَبَ الْعُودَ وَكَانَ مَهِيبًا وَلَمْ أَسْأَلْهُ يَوْمَئِذٍ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ ارْتَفَعَ إِلَى بَنِي قُشَيْرٍ فَقُمْتُ وَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّكَ قُلْتَ لِي يَوْمَئِذٍ كَذَا وَكَذَا , فَكَأَنَّهُ نَصَبَ عَيْنَيْهِ فَقَالَ لِي: يَا أَخِي نَعَمْ لَأَنْ يَطْلُبَ الرَّجُلُ هَذِهِ الدُّنْيَا بِالزَّمْرِ وَالْغِنَاءِ وَالْعُودِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَطْلُبَهَا بِالدِّينِ
187. Ahmad bin Ashim berkata: Tanganku pernah bergandeng dengan tangan Zuhair, aku berjalan bersamanya, sehingga kami sampai kepada orang buta yang sedang membaca (Al Qur'an). Ketika dia (Zuhair) mendengar bacaan orang itu, maka dia berhenti dan melihatnya, lalu dia berkata, "Jangan sampai kamu terpedaya dengan bacaannya. Demi Allah, demi Allah, sesungguhnya bacaan ini lebih buruk daripada nyanyian." Kemudian dia memukul kayu. Dia adalah seorang yang mulia. Namun pada saat itu aku tidak menanyakan kepadanya. Setelah dapat beberapa hari, aku mengunjungi bani Qusyair. Aku berdiri dan mengucapkan salam kepadanya, lalu aku bertanya, "Wahai Abu Abdurrahman, pada waktu itu kamu mengatakan begini dan begitu kepadaku." Seakan dia memicingkan kedua matanya, kemudian dia berkata kepadaku, "Benar saudaraku, seseorang yang mencari dunia dengan seruling, nyanyian, dan sejenis kecapi lebih baik daripada orang yang mencari dunia dengan agama."
Sahl bin Abdullah
أُصُولُنَا سِتَّةُ أَشْيَاءَ: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَالِاقْتِدَاءُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكْلُ الْحَلَالِ وَكَفُّ الْأَذَى وَاجْتِنَابُ الْآثَامِ وَالتَّوْبَةُ وَأَدَاءُ الْحُقُوقِ
188. Prinsip kita ada enam yaitu, berpegang teguh terhadap Kitab Allah Ta'ala, mengikuti Sunnah Rasulullah, memakan yang halal, mencegah sesuatu yang menyakitkan, menjauhi dosa, tobat, dan menunaikan hak.
الْعَيْشُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: عَيْشُ الْمَلَائِكَةِ فِي الطَّاعَةِ، وَعَيْشُ الْأَنْبِيَاءِ فِي الْعِلْمِ وَانْتِظَارِ الْوَحْيِ، وَعَيْشُ الصِّدِّيقِينَ فِي الِاقْتِدَاءِ وَعَيْشُ سَائِرِ النَّاسِ عَالِمًا كَانَ أَوْ جَاهِلًا، زَاهِدًا كَانَ أَوْ عَابِدًا فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ
Abu Ya'qub Az Zayyat
ذَكَرَ يَوْمًا لِبَعْضِ الْمُرِيدِينَ، تَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَالَ: وَاغَوْثَا بِاللَّهِ، مَرِيدٌ لَا يَحْفَظُ الْقُرْآنَ كَأُتْرُجَّةٍ لَا رِيحَ لَهَا، فَيِمَا يَتَنَعَّمُ؟ فَيِمَا يَتَرَنَّمُ؟ فَيِمَا يُنَاجِي رَبَّهُ؟ أَمَا تَعْلَمُ أَنَّ عَيْشَ الْعَارِفِينَ سَمَاعُ النَّغَمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَغَيْرِهِمْ
Abu Hafsh Amr bin Salamah An Naisaburi
مَنْ لَمْ يَزِنْ أَفْعَالَهُ وَأَحْوَالَهُ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَلَمْ يَتَّهِمْ خَوَاطِرَهُ، فَلَا تَعُدَّهُ فِي دِيوَانِ الرِّجَالِ، مِنْ نَعْتِ الْفَقِيرِ الصَّادِقِ أَنْ يَكُونَ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِحُكْمِهِ، فَإِذَا وَرَدَ عَلَيْهِ وَارِدٌ يَشْغَلُهُ عَنْ حُكْمِ وَقْتِهِ يَسْتَوْحِشُ مِنْهُ وَيَنْفِيهِ
191. Barangsiapa yang tidak menimbang perbuatan dan halnya dengan Al Kitab dan As-Sunnah dalam setiap waktu, dan tidak mencurigai bisikan hatinya, maka janganlah kamu menganggapnya dalam golongan orang-orang yang bijaksana. Diantara sifat orang fakir yang jujur adalah dalam setiap waktu dia bersama hukum Allah. Apabila ada yang datang padanya, sehingga membuatnya sibuk dari hukum waktunya, maka dia akan meninggalkannya dan menghilangkannya.
Hamdun bin Ahmad
سُئِلَ حَمْدُونُ: مَنِ الْعُلَمَاءُ؟ قَالَ: " الْمُسْتَعْمِلُونَ لِعِلْمِهِمْ وَالْمُتَّهِمُونَ آرَاءَهُمْ وَالْمُقْتَدُونَ بِسِيَرِ السَّلَفِ وَالْمُتَّبِعُونَ لِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَاسُهُمُ الْخُشُوعُ وَزِينَتُهُمُ الْوَرَعُ وِحِلْيَتُهُمُ الْخَشْيَةُ وَكَلَامُهُمُ ذِكْرُ اللَّهِ أَوْ أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نُهِيٌ عَنْ مُنْكَرٍ وَصَمْتُهُمْ تَفَكُّرٌ فِي آلَاءِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ، نَصِيحَتُهُمْ لِلْخَلْقِ مَبْذُولَةٌ وَعُيُوبُهُمْ عِنْدَهُمْ مَسْتُورَةٌ يُزَهِّدُونَ الْخَلْقَ فِي الدُّنْيَا بِالْإِعْرَاضِ عَنْهَا وَيُرَغِّبُونَهُمْ فِي الْآخِرَةِ بِالْحِرْصِ عَلَى طَلَبِهَا،
192. Hamdun pernah ditanya, "Siapakah ulama itu?" Dia menjawab, "Orang-orang yang mengamalkan ilmu mereka, mencurigai pendapat mereka, meneladani perjalanan orang salaf serta mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Pakaian mereka adalah kekhusyu'an,perhiasan mereka adalah kewaraan dan ketakutan. Perkataan mereka adalah dzikir kepada Allah, atau amar makruf, atau nahi munkar, dan diam mereka adalah memikirkan kenikmatan Allah. Nasihat mereka diserahkan kepada manusia, dan aib mereka (para ulama) di sisi mereka (manusia) tertutup. Mereka menjadikan manusia bersikap zuhud terhadap dunia dengan berpaling darinya, dan mereka menjadikan mereka mencintai akhirat dengan bersemangat dalam mencarinya.
Imam Al Junaid bin Muhammad Al Baghdadi
عِلْمُنَا مَضْبُوطُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَنْ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَكْتُبِ الْحَدِيثَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ لَا يُقْتَدَى بِهِ
193. llmu kita (ilmu tasawwuf) adalah mempelajari Al Qur'an dan As-Sunnah dengan seksama, siapa yang tidak hafal Al Qur'an dan tidak mencatat sebuah hadits serta tidak memahami isi kandungan dari keduanya, maka dia tidak bisa dijadikan panutan.
Ibrahim Al Khawwash
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ
Dikutip dari kitab Hilyatul Auliya Wa Thabaqatul Ashfiya
M. Aang Sopyan Ansory
Komentar
Posting Komentar