Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (12)

Yusuf bin Asbath

إِنِّي لَأَهُمُّ بِقِرَاءَةِ السُّورَةِ ثُمَّ أَعْرِفُ مَا جَاءَ فِيهَا وَأَمِيلُ إِلَى التَّسْبِيحِ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَبْدَأُ بِأَوَّلِ السُّورَةِ فَإِنْ كَانَ لَيْسَ يَعْمَلُ بِمَا فِيهَا لَمْ تَزَلِ السُّورَةُ تَلْعَنُهُ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا وَمَا أُحِبُّ أَنْ يَلْعَنَنِيَ الْقُرْآنُ

162. Aku lebih mementingkan untuk membaca satu surat, kemudian aku mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, lalu aku beralih untuk bertasbih. Sesungguhnya seseorang yang hendak memulai dari awal surat, maka jika dia tidak mengamalkan sesuai apa yang terkandung di dalamnya, maka surat yang dia baca akan senantiasa melaknatnya dari awal surat hingga akhir surat, sedangkan aku tidak ingin jika Al Qur'an melaknatku.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ثُمَّ آثَرَ الدُّنْيَا فَهُوَ مِمَّنِ اتَّخَذَ آيَاتِ اللهِ هُزُوًا , وَمَنْ كَانَ طَلَبُ الْفَضَائِلَ أَهَمَّ إِلَيْهِ مِنْ تَرْكِ الذُّنُوبِ فَهُوَ مَخْدُوعٌ وَقَدْ حُبِّبَ أَنْ يَكُونَ خَيْرًا عَالِيًا أَصْبَرُ عَلَيْنَا مِنْ ذُنُوبِنَا

163. Siapa yang membaca Al Qur'an, kemudian dia lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka dia termasuk orang yang menjadikan ayat-ayat Al Qur'an sebagai bahan ejekan. Siapa yang mencari karunia lebih dia pentingkan daripada meninggalkan dosa, maka dia adalah orang yang tertipu. Kecintaan kita pada kebaikan yang tinggi telah membuat kita harus lebih bersabar daripada kita melakukan dosa.

إِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ , مِنْ قُرَّاءِ السُّوقِ

164. Janganlah kamu menjadi bagian dari para ahli qiraat (yang suka berada) di pasar.

Abu Razin

مَثَلُ قُرَّاءِ هَذَا الزَّمَانِ مِثْلُ دِرْهَمٍ زَيَفٍ حَتَّى يَمُرَّ بِالْجَهْدِ فَيَبْدُوَ زَيْفُهُ

165. Perumpamaan para ahli qira'ah pada masa kini seperti dirham palsu, lalu ketika dirham itu diperhatikan dengan saksama, maka tampaklah kepalsuannya.

Hudzaifah Al Mar'asyi

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَآثَرَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ فَقَدِ اتَّخَذَ الْقُرْآنَ هُزُوًا وَمَنْ كَانَتِ النَّوَافِلُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ تَرْكِ الدُّنْيَا لَمْ آمَنْ أَنْ يَكُونَ مَحْرُومًا، وَالْحَسَنَاتُ أَضَرُّ عَلَيْنَا مِنَ السَّيِّئَةِ

166. Barangsiapa yang membaca Al Qur'an, kemudiandia lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, maka sungguh dia telah menjadikan Al Qur'an sebagai bahan ejekan, barangsiapa yang lebih menyukai meninggalkan ibadah sunnah daripada meninggalkan dunia, maka dia akan terhalang. Kebaikan lebih berbahaya bagi kita daripada keburukan.

Abdullah bin Abdul Aziz Al Umari

أَكْثِرْ قِرَاءَتَكَ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَقُودُكَ إِلَى الْجَنَّةِ

167. Perbanyaklah engkau membaca Al Qur'an karena sesungguhnya ia bisa menuntunmu ke surga.

Habib bin Abu Jamrah

إِذَا خَتَمَ الرجال الْقُرْآنَ قَبَّلَهُ الْمَلَكُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

168. Apabila seseorang mengkhatamkan Al Qur'an, maka malaikat menciumnya di antara kedua matanya.

Ubaidillah bin Sa'id

أَخَافُ أَنْ يُضَيِّقَ، عَلَى النَّاسِ تَتَبُّعُ الْأَلْفَاظِ , لِأَنَّ الْقُرْآنَ أَعْظَمُ حُرْمَةً وَسِعَ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى وُجُوهٍ إِذَا كَانَ الْمَعْنَى وَاحِدًا

169. Aku khawatir meneliti beberapa lafazh dapat menyulitkan manusia, karena sesungguhnya Al Qur'an adalah lebih agung kesuciannya dan boleh dibaca berdasarkan beberapa sisi bacaan, jika artinya sama.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i

قَالَ حَرْمَلَةَ، سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ فِي تَفْسِيرِ الْحَدِيثِ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ» قَالَ: يَتَحَزَّنُ بِهِ، وَيَتَرَنَّمُ بِهِ

170. Harmalah berkata: Aku mendengar Asy Syafi'i berkata tentang tafsir dari hadits, "Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak melagukan dalam membaca Al Qur'an." Dia berkata, "Maksudnya adalah memperlihatkan perasaan sedih ketika membaca Al Qur'an, dan mengindahkan suara ketika membaca Al Qur'an."

الْأَصْلُ قُرْآنٌ وَسُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا اتَّصَلَ الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَحَّ الْإِسْنَادُ عَنْهُ فَهُوَ سُنَّةٌ. وَالْإِجْمَاعُ أَكْثَرُ مِنَ الْخَبَرِ الْمُنْفَرِدِ، وَالْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ. وَإِذَا احْتَمَلَ الْمَعَانِيَ فَمَا أَشْبَهَ مِنْهَا ظَاهِرَهُ أَوْلَاهَا بِهِ. وَإِذَا تَكَافَأَتِ الْأَحَادِيثُ فَأَصَحُّهَا إِسْنَادًا أَوْلَاهَا

171. Landasan hukum yang utama adalah Al Qur'an dan Sunnah. Jika tidak ada dalil yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum pada keduanya, maka qiyaskan pada keduanya. Jika telah bersambung suatu hadits kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan telah benar sanadnya, maka itu adalah Sunnah. Ijma lebih banyak daripada khabar Ahad, dan hadits adalah sesuatu yang nyata. Jika makna-makna mengandung pengertian yang samar-samar maka makna yang mendekat kepada nash dan asli harus lebih didahulukan. Jika terdapat beberapa hadits, maka hadits yang paling benar sanadnya yang harus lebih didahulukan.

رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ. فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى رِضَاهُمْ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ جَلَّ فِي عُيونِ النَّاسِ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ النَّحْوَ هِيبَ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَلَّ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ لَمْ يُضِرْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ وَمِلَاكُ ذَلِكَ كُلِّهِ التَّقْوَى

172. Keridhaan manusia adalah tujuan yang tidak ada batasnya, maka engkau sebaiknya tetap konsisten dengan apa yang bisa memperbaiki dirimu. Karena sesungguhnya tidak ada jalan untuk mencapai pada keridhaan mereka. Ketahuilah bahwa siapa yang mempelajari Al Qur'an maka dia akan mulia dimata manusia, dan barang siapa yang mempelajari hadits maka akan kuatlah hujjahnya. Barang siapa yang mempelajari nahwu maka dia akan berwibawa, dan barangsiapa yang belajar bahasa Arab maka akan menjadi halus tabiatnya. Barang siapa yang mempelajari ilmu hitung maka akan menjadi mulia akalnya, dan barang siapa yang mempelajari fikih maka pribadinya menjadi mulia. Barang siapa tidak mengambil resiko bagi dirinya, maka ilmunya tidak bermanfaat bagi pribadinya. Kunci untuk mendapatkan semua itu adalah ketakwaan.

Muhammad bin Aslam

أَصْلُ الْإِسْلَامِ فِي هَذِهِ الْفَرَائِضِ، وَهَذِهِ الْفَرَائِضُ فِي حَرْفَيْنِ: مَا قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ افْعَلْ فَهُوَ فَرِيضَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يُفْعَلَ، وَمَا قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ لَا تَفْعَلْ فَيَنْبَغِي أَنْ يُنْتَهى عَنْهُ فَتَرْكُهُ فَرِيضَةٌ. وَهَذَا فِي الْقُرْآنِ وَفِي فَرِيضَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ يَقْرَؤُونَهُ وَلَكِنْ لَا يَتَفَكَّرُونَ فِيهِ، قَدْ غَلَبَ عَلَيْهِمْ حُبُّ الدُّنْيَا

173. Dasar islam itu terdapat pada kewajiban-kewajiban ini, dan kewajiban-kewajiban ini tercakup dalam dua kalimat berikut: (1) apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya: 'Lakukanlah,' maka itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Sedangkan (2) apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya: 'Jangan lakukan', maka wajib meninggalkannya. Semua ini terkandung di dalam Al Qur'an dan sunnah Rasul-Nya. Mereka memang menguasai semua ini, namun mereka tidak mau merenungkannya. Mereka telah dikuasai oleh perasaan cinta dunia.

Abu Sulaiman Ad Darani

رُبَّمَا أَقَمْتُ فِي الْآيَةِ الْوَاحِدَةَ خَمْسَ لَيَالٍ وَلَوْلَا أَنِّي بَعْدُ أَدَعُ الْفِكْرَ فِيهَا مَا جُزْتُهَا أَبَدًا، وَرُبَّمَا جَاءَتِ الْآيَةُ مِنَ الْقُرْآنِ تُطِيرُ الْعَقْلَ فَسُبْحَانَ الَّذِي رَدَّهُ إِلَيْهِمْ بَعْدُ

174. Terkadang aku merenungi satu ayat selama lima malam. Seandainya bukan karena aku tidak memikirkannya, niscaya aku tidak akan bisa melampauinya. Terkadang ada ayat Al Qur'an yang membuatku akan terbang entah kemana. Maha suci Dzat yang telah mengembalikannya kepada mereka setelah itu.

Dikutip dari kitab Hilyatul Auliya Wa Thabaqatul Ashfiya

M. Aang Sopyan Ansory

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (1)

Forum Huffazhil Quran Mengutuk Keras Terdakwa HW

SHAHIH BUKHARI - KITAB 1 PERMULAAN TURUNNYA WAHYU