Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (11)

Fudhail bin Iyadh

تَزَيَّنْتَ لَهُمْ بِالصُوفِ ولَمْ تَرَهُمْ يَرْفَعُونَ لَكَ رَأْسًا تَزَيَّنْتَ لَهُمْ بِالْقُرْآنِ فَلَمْ تَرَهُمْ يَرْفَعُونَ بِكَ رَأْسًا تَزَيَّنْتَ لَهُمْ بِشَيْءٍ بَعْدَ شَيْءٍ كُلُّ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ لِحُبِّ الدُّنْيَا

152. Engkau berhias untuk mereka dengan pakaian wol, namun engkau tidak melihat mereka mengangkat kepala untukmu, engkau berhias untuk mereka dengan Al Qur'an, namun engkau tidak melihat mereka mengangkat kepala untukmu, engkau berhias untuk mereka dengan sesuatu demi sesuatu, semua ini hanyalah karena cinta dunia.

Wuhaib bin Al Ward

نَظَرْنَا فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ نَجِدْ شَيْئًا أَرَقَّ لِهَذِهِ الْقُلُوبِ , وَلَا أَشَدَّ اسْتِجْلَابًا لِلْحَقِّ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَدَبَّرَهُ

153. Kami telah memikirkan hadits ini, namun kami tidak menemukan sesuatu yang bisa melunakkan hati, dan tidak ada yang lebih mengajak kepada kebenaran daripada membaca Al Qur'an bagi orang yang memikirkannya.

قِيلَ لِرَجُلٍ أَلَا تَنَامُ؟ قَالَ: إِنَّ عَجَائِبَ الْقُرْآنِ أَذْهَبَتْ نَوْمِي

154.  Ada yang bertanya kepada seorang lelaki, 'Tidakkah engkau tidur?' Dia menjawab, 'Sesungguhnya keajaiban Al Qur'an telah menghilangkan rasa kantukku'.

Ibrahim bin Adham

مَرَّ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ فِي أَسْوَاقِ الْبَصْرَةِ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ إِلَيْهِ , فَقَالُوا لَهُ: يَا أَبَا إِسْحَاقَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: {ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]. وَنَحْنُ نَدْعُوهُ مُنْذُ دَهْرٍ فَلَا يَسْتَجِيبُ لَنَا , قَالَ: فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: " يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ , أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ , وَالثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ , وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ , وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا , وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

155. Ibrahim bin Adham pernah melintasi pasar Bashrah, lalu orang-orang pun mengelilinginya. Kemudian mereka bertanya kepadanya, "Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya 'Berdoalah kepda-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu'. (Qs. Ghaafir [40]: 60), sedangkan kami selalu berdoa kepada-Nya sejak dulu, namun Dia tidak memperkenankan doa kami?" Ibrahim menjawab, "Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati sebab sepuluh hal: Pertama, kalian mengenal Allah, namun kalian tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, kalian membaca kitab Allah, namun kalian tidak mengamalkannya. Ketiga, kalian mengklaim cinta kepada Rasulullah, namun kalian meninggalkan Sunnah beliau. Keempat, kalian mengklaim sebagai musuh syetan, namun kalian sepakat dengannya. Kelima, kalian mengatakan, kami mencintai surga, namun kalian tidak beramal untuknya. Keenam, kalian mengatakan kami takut akan neraka, namun kalian malah gadaikan diri kalian untuknya. Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian itu hak (pasti terjadi), namun kalian tidak bersiap-siap untuknya. Kedelapan, kalian sibuk mengurusi aib saudara kalian, namun kalian mengesampingkan aib kalian. Kesembilan, kalian memakan nikmat Tuhan, namun kalian tidak mensyukurinya. Kesepuluh, kalian menguburkan orang-orang yang meninggal diantara kalian, namun kalian tidak mengambil pelajaran dengan mereka.

مَكْتُوبٌ فِي بَعْضِ كُتُبِ اللهِ: مَنْ أَصْبَحَ حَزِينًا عَلَى الدُّنْيَا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصْبَحَ يَشْكُو مُصِيبَةً نَزَلَتْ بِهِ أَصْبَحَ يَشْكُو رَبَّهُ وَأَيُّمَا فَقِيرٍ جَلَسَ إِلَى غَنِيٍّ فَتَضَعْضَعَ لَهُ لِدُنْيَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنُ فَاتَّخَذَ آيَاتِ اللهِ هُزُوًا أُدْخِلَ النَّارَ , قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: لَوْلَا ثَلَاثٌ مَا بَالَيْتُ أَنْ أَكُونَ يَعْسُوبًا , ظَمَأُ الْهَوَاجِرَ , وَطُولُ لَيْلَةِ الشِّتَاءِ , وَالتَّهَجُدُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

156. Dalam sebagian kitab Allah tertuliskan, 'Siapa yang bersedih karena dunia, berarti dia marah kepada Allah, dan siapa yang mengeluh karena musibah yang menimpanya, berarti dia mengeluhkan Tuhannya. Orang fakir manapun yang pergi menemui orang kaya, lalu dia merendahkan diri kepadanya karena dunianya, maka dia telah menghilangkan dua pertiga agamanya. Siapa yang membaca Al Qur'an, lalu dia mempermainkan ayat-ayat Allah, maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka'. Andai saja bukan karena tiga hal, maka aku tidak akan peduli jika aku menjadi pemimpin yaitu, dahaga di pertengahan siang, panjangnya malam di musim kemarau, dan tahajjud dengan Kitab Allah.

Abdullah bin Al Mubarak

قَامَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ الْمُبَارَكِ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي أَيِّ شىءٍ أَجْعَلُ فَضْلَ يَوْمِي , فِي تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ , أَوْ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ؟ فَقَالَ: " هَلْ تَقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تُقِيمُ بِهِ صَلَاتَكَ؟ قَالَ: نَعَمْ , قَالَ: فَاجْعَلْهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ الَّذِي يُعْرَفُ بِهِ الْقُرْآنُ

157. Ada seorang lelaki yang menemui Ibnu Al Mubarak, lalu dia berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, apa yang harus aku lakukan dalam hariku yang senggang, belajar Al Qur'an atau menuntut ilmu?" Ibnu Al Mubarak balik bertanya, "Apakah engkau membaca ayat AI Quran ketika engkau melakukan shalat?" Dia menjawab, "Iya". lbnu Al Mubarak berkata, "Maka jadikanlah (harimu yang senggang itu) untuk menuntut ilmu, yang dengannya Al Qur'an bisa dipahami."

قَالَ أَبو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيَّ : قُلْتُ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ: إِنَّا نَقْرَأُ بِهَذِهِ الْأَلْحَانِ , فَقَالَ: إِنَّمَا كُرِهَ لَكُمْ مِنْهَا , إِنَّا أَدْرَكْنَا الْقُرَّاءَ وَهُمْ يُؤْتَوْنَ تُسْمَعُ قِرَاءَتُهُمْ , وَأَنْتُمْ تَدَّعُونَ الْيَوْمَ كَمَا يَدَّعِي الْمُغَنُونَ

158. Abu Daud Ath-Thayalisi berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarak, 'Kami membaca (Al Qur'an) dengan lahn (irama) seperti ini. Dia berkata, "Bacaan seperti itu dimakruhkan bagi kalian, kami pernah hidup semasa dengan para qari', mereka ditemui agar bacaan mereka bisa didengar. Sedangkan saat ini, kalian yang memanggil-manggil sebagaimana para biduan memanggil."

Abdul Aziz bin Abu Rawwad

مَنْ لَمْ يَتَّعِظْ بِثَلَاثٍ لَمْ يَتَّعِظْ: بِالْإِسْلَامِ وَالْقُرْآنِ وَالشَّيْبِ

159. Barangsiapa yang tidak mengambil nasihat dari tiga hal, maka dia tidak akan pernah mendapatkan nasihat, yaitu Islam, Al Qur'an dan uban.

Yusuf bin Asbath

وَاللهِ لَقَدْ أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا فُسَّاقًا كَانُوا أَشَدَّ إِبْقَاءً عَلَى مُرُوءَاتِهِمْ مِنْ قُرَّاءِ أَهْلِ هَذَا الزَّمَانِ عَلَى أَدْيَانِهِمْ، إِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ قُرَّاءِ السُّوءِ

160. Demi Allah, aku pernah hidup semasa dengan kaum yang fasih namun mereka lebih menjaga kehormatan mereka daripada ahli qira'ah pada masa kini atas agama mereka. Janganlah engkau menjadi bagian dari para ahli qira 'ah yang buruk.

احْذَرِ الْقُرَّاءِ الْمُصْغِينَ , وَالْعُلَمَاءَ الْمُتَحَرِّينَ , حَيَوْا بِطُرُقٍ وَصَدُّوا النَّاسَ عَنِ سَبِيلِ الْهَوَى , وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكَ لِمَا يُحِبُّ

161. Jauhilah para ahli qira'ah yang hanya ingin didengar, dan para ulama yang suka mengadu domba, mereka hidup melalui beberapa cara dan menghalangi manusia dari jalan hawa nafsu. Semoga Allah memberi kita petunjuk untuk mencapai apa yang dicintai-Nya.

Dikutip dari kitab Hilyatul Auliya Wa Thabaqatul Ashfiya

M. Aang Sopyan Ansory

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahkota Wali Allah - Mutiara Hikmah Pencinta Al Qur'an (1)

Forum Huffazhil Quran Mengutuk Keras Terdakwa HW

SHAHIH BUKHARI - KITAB 1 PERMULAAN TURUNNYA WAHYU